Wednesday, 2 August 2017

Tanam ganja buat obati istri, Fidelis divonis 8 bulan penjara


Klikdulu - Terdakwa kasus kepemilikan 39 tanaman ganja Fidelis Ari divonis 8 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat. Putusan ini lebih berat dari tuntutan jaksa yang menuntut 5 bulan penjara dan denda Rp 800 juta subsider satu bulan kurungan.

Sidang dipimpin Hakim Ketua Achmad Irfir Rochman dan 2 hakim anggota Jhon Malvino Noa Wea serta Maulana Abdillah. Baik kuasa hukum Fidelis maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU) memanfaatkan waktu sepekan untuk berpikir.

"Putusan 8 bulan penjara, denda 1 miliar dengan ketentuan apabila tidak membayar denda maka diganti dengan kurungan 1 bulan penjara," kata Achmad saat membacakan putusan, Rabu (2/8).

Majelis juga memerintahkan pengembalian barang bukti 1 motor bernomor polisi KB 3235 W milik saksi dalam kasus itu. "Dan membebankan kepada terdakwa biaya perkara sebesar Rp 2 ribu," ujar Achmad.

Sebelumnya, dalam pembacaan pertimbangan majelis hakim diwarnai perbedaan pendapat antar-hakim. Namun demikian, majelis hakim tetap harus menyimpulkan dan memutuskan perkara terkait kasus yang menyita perhatian publik itu.

Hakim Achmad sempat menanyakan sikap Fidelis terkait putusan itu. Di hadapan hakim, Fidelis menyatakan pikir-pikir. "Hak yang sama juga kami berikan kepada penuntut umum. Yang selanjutnya sidang selesai, dan sidang ditutup," ujar Achmad.

Sidang itu, dihadiri Yohana, kakak kandung Fidelis, beserta adik kandung terdakwa Clara, juga anggota DPR Ranik.

"Dalam waktu 1 minggu, nanti kita pikirkan. Apakah kemudian Fidelis akan mengajukan banding atau menerima putusan ini," kata penasihat hukum Fidelis Ari, Marselina Lin

Sementara Kajari Sanggau Danang Wibowo menegaskan, dia menggarisbawahi adanya perbedaan pendapat antar hakim, dalam merumuskan putusan.

"Kita tahu tadi ada perbedaan juga. Selanjutnya jaksa akan berkonsultasi kepada pimpinan. Karena perkara ini kan sifatnya nasional. Sesuai dengan perundang-undangan, kita masih punya waktu 1 minggu," kata Danang, ditemui wartawan usai sidang.

Seperti diketahui, Fidelis ditangkap BNN Kabupaten Sanggau, 19 Februari 2017 lalu lantaran kepemilikan 39 batang tanaman ganja di belakang rumahnya. Kepada petugas, PNS di salah satu instansi di Pemkab Sanggau itu mengaku menanam ganja untuk mengobati sakit istrinya, Yeni Riawati (39).

Lantaran Fidelis mendekam di penjara, sang istri tercinta pun meninggal dunia 25 Maret 2017 lalu. Kisah Fidelis menjadi viral, lantaran penyakit langka Syringomyelia telah sejak lama diderita istrinya. Disebutkan hanya pengobatan ekstrak ganja yang bisa membuat Yeni bertahan hidup.

Sumber : Merdeka.com

Kisah Jenderal TNI pas naik Haji dipanggil pulang karena DKI genting


Jakarta - Umat Islam memasuki Muslim Haji. Kloter demi kloter jemaah dari Indonesia telah tiba di Madinah.

Ada kisah menarik soal tentara yang naik haji. Karena ibukota genting, terpaksa pulang lebih cepat saat naik haji.

Kisah ini disampaikan Mayjen Purn Eddie M Nalapraya. Saat itu tahun 1980, Eddie berpangkat Brigjen dan menjabat sebagai Kepala Staf Garnisun Ibu Kota Jakarta.

Eddie sedang menuaikan ibadah haji di tanah suci. Tiba-tiba dia dikontak Konjen RI di Jeddah. Isinya perintah dari Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Laksamana Sudomo agar Eddie segera pulang.

Demikian dikisahkan dalam buku Memoar Eddie M Nalapraya, Jenderal Tanpa Angkatan yang ditulis Ramadhan KH dan kawan-kawan. Buku ini diterbitkan Zigzag Creative tahun 2010. 

Sebagai prajurit Eddie harus menuruti perintah. Dia segera berkemas dan kembali ke tanah air. Untung rangkaian ibadah haji sudah hampir selesai. Selama di pesawat Eddie berpikir apa yang terjadi di Tanah Air sehingga harus segera pulang ke Indonesia. 

Maklum saat itu arus informasi belum seperti sekarang. Dulu masih mengandalkan radio, TV atau surat kabar dan selama Haji, Eddie sama sekali tak memantau beritadari tanah air.


Setelah pesawat mendarat di Halim Perdanakusuma, Eddie langsung menghadap Laksamana Sudomo. Dia langsung ditugasi merangkap jabatan Kepala Staf Kodam Jaya. Pertama kali terjadi jabatan Kepala Staf Garnisun dan Kepala Staf Kodam dirangkap.

Apa penyebabnya? Ternyata kondisi keamanan DKI sedang panas. Saat itu terjadi bentrok antara tentara dan mahasiswa. 19 Mahasiswa terluka, suasana ibu kota tegang.

Eddie dikenal sebagai tentara yang mengedepankan persuasif dan mampu merangkul semua kalangan. Walau jago bertempur, dia mampu bertindak humanis hingga menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Tenaganya dibutuhkan untuk mengatasi suasana tersebut.

Eddie turun ke lapangan. Dengan gayanya yang khas, masalah bisa selesai.

"Gunakan cara kekeluargaan, masalah ini bisa selesai tanpa dendam di kedua belah pihak," kata Eddie.

Beres satu, ada lagi masalah lain. Kala itu Pilot Garuda Indonesia mogok menuntut kesejahteraan. Lalu Lintas penerbangan pun lumpuh.

Eddie sempat didatangi Dirut Garuda. Dia meminta Eddie tangkap saja semua pilot yang mogok. Namun Eddie menolaknya, dia tak mau menggunakan cara-cara seperti itu.

Eddie datang ke Kemayoran tempat para pilot mogok. Saat itu Jakarta belum memiliki Soekarno-Hatta Airport di Cengkareng. Kemayoran di Jakarta Pusat adalah bandara utama. 

Dia ajak para pilot berdialog dari hati ke hati. Tercapai kesepakatan hingga akhirnya secara sukarela para pilot mengakhiri aksi mogok itu.

Keesokan paginya Letjen Benny Moerdani mengecek langsung suasana Bandara Kemayoran. Dia puas melihat kegiatan penerbangan sudah berjalan seperti normal. 

Sabil jalan ke mobilnya, Benny Moerdani berkata pada Eddie. "Ed, nanti kau jadi Panglima ya," kata Benny.

Rupanya prestasi Eddie langsung diapresiasi oleh atasannya itu. Dia direncanakan mendapat promosi untuk menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda di Aceh.

Sebagai prajurit Eddie hanya menjawab "Siap, Pak!"

Namun uniknya justru karena prestasinya itu akhirnya Eddie tak menjadi Pangdam Iskandar Muda. Saat itu Panglima TNI Jenderal M Jusuf menilai kehadiran Eddie masih sangat dibutuhkan di Jakarta. Eddie pun batal bertolak ke Aceh.

Eddie kemudian diangkat menjadi Asisten Teritorial Panglima dan sempat menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 1984-1987. Sosoknya dikenal dekat dengan warga dan para ulama.

Sumber: Merdeka.com

Sebut Jokowi dan PDIP seperti PKI, Waketum Gerindra Akan Dituntut

Klikdulu - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Puyuono yang menyebut Presiden Joko Widodo dan PDIP membohongi rakyat seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), ternyata berbuntut panjang.
Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyantomengatakan, tengah mempertimbangkan menempuh jalur hukum untuk meminta pertanggungjawaban Arief.
"Tim hukum kami mengkaji dan akan melakukan gugatan kepada yang bersangkutan. Karena dalam suatu pernyataannya menyebut kami menipu rakyat," kata Hasto, saat ditemui di sela-sela acara pembukaan pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2017).

Menurutnya, setiap pernyataan maupun kritik yang dilontarkan politikus dan legislator harus berdasarkan bukti.Dia mengingatkan, sebagai pemimpin partai politik dan legislator, Arief seharusnya berhati-hati saat mengeluarkan pernyataan maupun mengkritik.

"Sebagai politikus, dia seharusnya disiplin dalam berbicara dan bertindak. Tidak bisa menyampaikan pernyataan tanpa bukti, tanpa didukung hal-hal yang akurat, lebih-lebih karena sebuah kompetisi. Sebagai bentuk pengajaran, kami tengah mengkaji untuk melakukan gugatan," jelasnya.
Hasto mengklaim, PDIP selama ini berpolitik berdasarkan Pancasila bukan ideologi lain. Karenanya, ia tidak terima kalau PDIP disamakan dengan PKI.
"Itu pernyataan yang sangat berlebihan. Kami partai yang berlandaskan Pancasila. Dalam sebuah nafas perjuangan ini, dari rekam jejaknya kami kokoh berdiri, berpolitik di atasdasar Pancasila. Karena itu yang menuduh sembarangan, kami bersikap," tandas dia.
Sebelumnya, dalam keterangan tertulis, Arief menilai usulan Jokowi dan PDIP terkait ambang batas pemilihan presiden merupakan penipuan dan merenggut hak konstitusi rakyat.
"Jokowi dan PDIP serta antek-anteknya membohongi masyarakat, dan kurang sampai otaknya tentang sebuah arti hak konstitusi warga negara dalam berdemokrasi. Jadi, wajar saja kalau PDIP sering disamakan dengan PKI, habis sering buat lawak politik dan menipu rakyat," kata Arie,  Senin (31/7).
Sumber: Suara.com 

Mengapa Kalimat ''Kamu Terlalu Baik Buat Aku'' Sering Jadi Alasan Putus

Klikdulu - Ladies, kamu pasti sudah sering banget mendengar kalimat yang satu ini. Entah dari curhatan teman maupun pengalaman pribadi, kalimat "Kamu Terlalu Baik Buat Aku" sering sekali dijadikan alasan untuk memutus hubungan percintaan. Bukan tanpa alasan, banyak yang memilih kalimat ini untuk mengakhiri hubungan karena beberapa sebab.
Alasan pertama mengapa kalimat ini sering dipakai untuk putus cinta adalah karena si dia nggak mau menyakitimu Ladies. Nggak tahu apa alasan sebenarnya dia ingin mengakhiri hubungan, tapi kalimat ini dianggap paling halus dan tak akan membuatmu lebih terluka walaupun sebenarnya kenyataannya lebih menyakitkan.
Bisa jadi mereka nggak ingin terlihat jahat di depanmu, padahal sebenarnya sudah menemukan sosok yang baru yang membuatnya ingin mengakhiri hubungan denganmu. Karena itulah kalimat ini dipilih Ladies. Cara paling aman untuk mengakhiri hubungan.
Kalimat ini memang dirasa yang paling halus Ladies. Padahal sebenarnya perpisahan tetap akan menyakitkan. Pada intinya kalimat ini hanyalah omong kosong belaka. Jika memang kita terlalu baik untuknya, lalu mengapa ia menyia-nyiakan kita dan lebih memilih berpisah? Jika dinalar setiap orang jelas menginginkan pasangan yang terbaik untuk mereka bukan?
Nah, jika kamu termasuk salah satu yang mengalami hal ini maka jangan galau berlebihan Ladies. Nyatanya kamu memang benar-benar terlalu baik untuknya dan ia tak pantas untukmu. Ingat, orang yang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik juga.
Well head up, stay strong, and move on.
Sumber: Vemale.com